Minggu, 22 Maret 2009

Desa Tungkaran

Oleh : Rahmi Rizkia Rini (J1C108033)
Jurusan Biologi FMIPA UNLAM

Pada hari Senin, 9 Maret 2009 saya dan teman-teman jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat mengunjungi Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang berada pada titik 3037’22,8” S 114042’09,2” E. Kami mengunjungi daerah ini untuk melakukan survey lahan basah.

Luas lahan basah (wetland) di dunia mencapai 8.558.000 km2 atau lebih dari 6% luas permukaan bumi. Indonesia termasuk ke dalam tujuh negara di Asia Pasifik yang mempunyai lahan basah yang didukung oleh keanekaragaman lahan basah yang luas. Kini, luas lahan basah di Indonesia adalah sekitar 30,3 juta ha.
Daerah lahan basah di Desa Tungkaran ini merupakan daerah rawa, berair tawar, perairannya tergenang dan surut, dengan ketinggian ± 1,5 meter. Hal ini sesuai dengan pengertian lahan basah menurut Konvensi Ramsar (1971) yaitu daerah payau, paya, tanah gambut atau perairan, baik yang bersifat alami maupun buatan, tetap ataupun sementara, dengan perairannya yang tergenang ataupun mengalir, tawar, agak asin ataupun asin, termasuk daerah-daerah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut. Lahan basah harus mempunyai salah satu ciri berikut, yaitu paling sedikit secara periodik, lahan basah terutama mendukung hidrofita (tumbuhan air), substratnya terutama berupa tanah hidric yang tidak dikeringkan, dan/atau, substratnya berupa bahan bukan tanah dan jenuh atau tertutup dengan air dangkal pada suatu waktu selama musim pertumbuhan setiap tahun. Dengan demikian maka lahan basah merupakan ekosistem peralihan (ekoton) antara ekosistem perairan (aquatic) dan ekosistem daratan (terrestrial), adanya dominasi rejim air dan adanya tanaman (hidrofita) yang mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lahan yang senantiasa jenuh (tergenang) air.
Menurut cara terbentuknya, secara sederhana, dapat dikelompokkan menjadi lahan basah alami (natural wetlands) dan lahan basah buatan (artificial/man-made wetlands). Lahan basah alami utama salah satunya berupa kawasan rawa (palustrine), meliputi tempat-tempat yang bersifat merawa (berair tergenang atau lembab), misalnya hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, dan rawa rawa rumput.
Daerah rawa di Desa Tungkaran ini layak dimasukkan ke dalam kategori wetland karena di wilayah ini selalu basah dengan curah hujan serta ditumbuhi vegetasi rumput, tanaman air / aquatik / hidrofilik dalam kondisi selalu tergenang.
Bentang lahan rawa menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai semakin rendah genangannya.
Lahan basah adalah lingkungan yang produktif di dunia. Kawasan ini merupakan sumber keanekaragaman biologis, penyedia air, dan produktivitas primer bagi banyak tumbuhan dan satwa yang bergantung padanya. Banyak orang bergantung pada keberadaan lahan basah. Masyarakat juga bergantung pada lahan basah karena danau, muara, hutan rawa dan lahan basah lainnya menyediakan air, kayu, buah, padi, ikan, daging dan sagu.
Tumbuhan dan hewan banyak mendiami lahan basah. Di sepanjang daerah lahan basah Desa Tungkaran ini ditumbuhi oleh vegetasi pakis-pakisan, paku-pakuan, rumput rawa, dan tanaman air lainnya. Hampir sepertiga daerahnya didominasi oleh tanaman enceng gondok (Eicchorina cressipes), akan tetapi tanaman ini hanya tumbuh di pinggir rawa, sedangkan di tengah rawa terdapat tanaman padi, dengan beberapa kelompok kecil tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis) di sela-selanya. Tanaman padi yang masih muda juga ditanam di pinggiran jalannya. Di antara tanaman enceng gondok terdapat daun-daun kecil yang mengapung di atas air, disebut dengan kayapu atau kiambang. Di pinggiran rawa terdapat pohon rumbia yang mengelompok. Juga ada pohon kelapa di dekatnya.










Di antara daerah ini terdapat sebagian kecil rawa yang tidak terdapat enceng gondok yaitu yang hanya tergenang oleh air, terdapat tanaman teratai rawa (Salvinia molesta), selain itu juga banyak terdapat tanaman pisang serta paku-pakuan.
Selain terdapat berbagai macam tumbuhan, di daerah ini juga hidup berbagai macam jenis ikan, diantaranya ikan gabus, toman, cupang, melantau, sepat, dan ikan seluang. Hewan-hewan seperti cacing tanah, capung, dan kodok rawa (Fejervarya cancrivora )juga ada di daerah ini dengan warna yang beragam dan mencolok.



Akan tetapi di pinggiran jalan dan genangan rawa terdapat kotoran dan sampah yang dibuang oleh masyarakat setempat. Hal ini tentu saja sangat mengganggu kebersihan dan keindahan ekosistem lahan basah tersebut. Sampah yang dibuang berupa sampah organik dan non organik yang sulit diuraikan sehingga akan mencemari perairannya. Apabila dibiarkan terus menerus maka tumbuhan serta ikan-ikan yang ada disekitarnya akan mati.

Dilihat dari daerahnya, lahan basah di Desa Tungkaran ini berpotensi menjadi lahan pertanian. Enceng gondok yang banyak terdapat di daerah ini dapat dijadikan kerajinan seperti tas, sepatu, dan lain-lain. Selain itu juga berpotensi tinggi sebagai sumber daya perikanan serta tempat pemijahan dan perkembangbiakan bagi berbagai ikan rawa dengan berbagai macam ikan yang hidup di sana dan karena habitat lingkungannya masih terpelihara dengan baik. Tentu saja masyarakat setempat juga harus memiliki kesadaran untuk membersihkan dan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Apabila dikelola dengan baik maka tempat ini juga berpotensi menjadi pariwisata lahan basah karena suasananya yang masih asri dan udaraya yang sejuk. Lahan basah alami sering lebih produktif daripada lahan basah buatan, seperti tambak, sawah, dan perkebunan.
Sejauh ini dari kondisi yang saya lihat di sana, sepertinya lahan basah di Desa Tungkaran tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat setempat, sampai-sampai ada masyarakat yang membuangan sampah di sana. Padahal apabila dikelola dengan lebih maksimal maka tempat ini dengan segala potensi yang dimilikinya dapat menambah penghasilan bagi daerah dan masyarakat setempat.

Senin, 16 Maret 2009

Lahan Basah di Desa Tungkaran

Oleh : Rahmi Rizkia Rini (J1C108033) Jurusan Biologi Fakultas MIPA UNLAM

Pada hari Senin, 9 Maret 2009 saya dan teman-teman jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat mengunjungi Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar yang berada pada titik 3037’22,8” S 114042’09,2” E. Kami mengunjungi daerah ini untuk melakukan survey lahan basah.

Daerah ini merupakan daerah rawa, berair tawar, perairannya tergenang dan surut, dengan ketinggian ± 1,5 meter. Hal ini sesuai dengan pengertian lahan basah menurut Konvensi Ramsar (1971) yaitu daerah payau, paya, tanah gambut atau perairan, baik yang bersifat alami maupun buatan, tetap ataupun sementara, dengan perairannya yang tergenang ataupun mengalir, tawar, agak asin ataupun asin, termasuk daerah-daerah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut.

Daerah rawa di Desa Tungkaran ini layak dimasukkan ke dalam kategori wetland karena di wilayah ini selalu basah dengan curah hujan serta ditumbuhi vegetasi rumput, tanaman air / aquatik / hidrofilik dalam kondisi selalu tergenang.

Bentang lahan rawa menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai semakin rendah genangannya.

Di sepanjang daerah ini ditumbuhi oleh vegetasi pakis-pakisan, paku-pakuan, rumput rawa, dan tanaman air lainnya. Hampir sepertiga daerahnya didominasi oleh tanaman enceng gondok (ilung), akan tetapi tanaman ini hanya tumbuh di pinggir rawa, sedangkan di tengah rawa terdapat tanaman padi, dengan beberapa kelompok kecil tanaman purun tikus di sela-selanya. Di antara tanaman enceng gondok terdapat daun-daun kecil yang mengapung di atas air, disebut dengan kayapu atau kiambang. Di pinggiran rawa terdapat pohon rumbia.

Di antara daerah ini terdapat sebagian kecil rawa yang tidak terdapat enceng gondok yaitu yang hanya tergenang oleh air, terdapat tanaman teratai rawa, selain itu juga terdapat tanaman pisang serta paku-pakuan.

Selain terdapat berbagai macam tumbuhan, di daerah ini juga hidup berbagai macam jenis ikan, diantaranya ikan gabus, toman, cupang, melantau, sepat, dan ikan seluang. Hewan-hewan seperti cacing tanah, capung, dan katak juga ada di daerah ini dengan warna yang beragam dan mencolok.

Akan tetapi di pinggiran jalan dan genangan rawa terdapat kotoran dan sampah yang dibuang oleh masyarakat setempat. Hal ini tentu saja sangat mengganggu kebersihan dan keindahan ekosistem lahan basah tersebut. Sampah yang dibuang berupa sampah organik dan non organik yang sulit diuraikan sehingga akan mencemari perairannya. Apabila dibiarkan terus menerus maka tumbuhan serta ikan-ikan yang ada disekitarnya akan mati.

Dilihat dari daerahnya, lahan basah di Desa Tungkaran ini berpotensi menjadi lahan pertanian. Enceng gondok yang banyak terdapat di daerah ini dapat dijadikan kerajinan seperti tas, sepatu, dan lain-lain. Selain itu juga berpotensi tinggi sebagai sumber daya perikanan serta tempat pemijahan dan perkembangbiakan bagi berbagai ikan rawa dengan berbagai macam ikan yang hidup di sana dan karena habitat lingkungannya masih terpelihara dengan baik. Tentu saja masyarakat setempat juga harus memiliki kesadaran untuk membersihkan dan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Apabila dikelola dengan baik maka tempat ini juga berpotensi menjadi pariwisata lahan basah karena suasananya yang masih asri dan udaraya yang sejuk.

Sejauh ini dari kondisi yang saya lihat di sana, sepertinya lahan basah di Desa Tungkaran tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat setempat, sampai-sampai ada masyarakat yang membuangan sampah di sana. Padahal apabila dikelola dengan lebih maksimal maka tempat ini dengan segala potensi yang dimilikinya dapat menambah penghasilan bagi daerah dan masyarakat setempat.